Pentingnya Kenali Perkembangan Psychological Anak Sejak Dini

TEMPO.CO, Jakarta – Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menghadapi beragam tantangan. Padahal kebiasaan ini bisa mengakibatkan peningkatan tekanan emosional maupun psikologis. Jika Anda tidak bijak mengelola tekanan emosional atau psikologis yang dialami, maka kesehatan mental Anda bisa terganggu. Cara memberikan pendidikan atau pengajaran agama haruslah sesuai dengan perkembangan psikologis dari anak didik, mulai dari Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah sampai tingkat Universitas. Seorang agama belum cukup kalau ia hanya tahu pengetahuan agama, akan tetapi ia harus pula menguasai masalah-masalah didaktik, metodik dan psikologi, supaya ia dapat mengajar dengan baik.

Hal ini menunjukkan bahwa belajar berhubungan erat dengan melatih diri untuk menguasai sejumlah keahlian. Dan keahlian tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari setelah selesai belajar, sekalipun persoalan yang dihadapi tidak seperti yang dihadapi ketika sedang belajar. Dengan memperhatikan hal di atas, maka guru dengan segala upayanya untuk membuat siswa belajar adalah motivasi ekstrinsik bagi siswa. Guru perlu juga memperhatikan bahwa pikiran atau persepsi sendiri sering lebih kuat dari kebenaran yang letaknya di luar diri sendiri.

Pentingnya mentalitas

Sejak zaman sebelum merdeka hingga zaman pasca reformasi saat ini perhatian terhadap pendidikan dan pengembangan karakter terus mendapat perhatian tinggi. Pada awal kemerdekaan pembangunan pendidikan menekankan pentingnya jati diri bangsa sebagai salah satu tema pokok pembinaan karakter dan pekerti bangsa. Pada zaman Orde Lama, Nation and Character Building merupakan pembinaan karakter dan pekerti bangsa. Pada zaman Orde Baru, pembinaan karakter bangsa dilakukan melalui mekanisme penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila . Pada zaman Reformasi, sejumlah elemen kemasyarakatan menaruh perhatian terhadap pembinaan karakter bangsa yang diwujudkan dalam berbagai bentuk kegiatan.

Umumnya orang melihat gejala penyakit, tetapi apa penyebab pokoknya masih belum ditemukan. Akhir Nopember 2006, Michael Porter dari Harvard Business School memberikan serangkaian ceramah di Jakarta dalam rangka melihat perkembangan perekonomian di Indonesia. Dengan terus terang Porter meneropong berbagai kelemahan struktural birokratik yang mendera Indonesia sejak beberapa tahun terakhir. Hampir tidak ada perubahan, mental Bonus Cashback terbesar aparat dan pengusaha dikatakan sudah karatan. Yang mencengangkan Porter ialah kenyataan baik pemerintah mau pun pengusaha sudah sama-sama menyadari kelemahan itu, tetapi tetap saja tidak mau berubah.

Dengan kesadaran penuh, mereka sudah otomatis akan memasukkan unsur lingkungan hidup sebagai unsur penting dalam perencanaannya. Selain membawa anak tur menanam 1.000 pohon atau membuat kompos, mereka juga sudah terbiasa membawa kantung sendiri saat berbelanja karena gaya hidup. Mereka terbiasa naik kendaraan umum, hemat air karena memang sudah menjadi gaya hidup sehari-hari.